Breaking News
Loading...
  • SMABA
  • ROHIS
  • PMR

TATA GAWA

Recent Post

Pelaksanaan Patryout #2 di SMA NEGERI 1 BANGUNTAPAN

Pelaksanaan Patryout #2 di SMA NEGERI 1 BANGUNTAPAN

PATRYOUT # 2 yang dilaksanakan di sma negeri 1 banguntapan
Sma1banguntapan.sch.id patryout yang tela dilaksanakan di sma negeri 1 banguntapan pada tangga 14 februari kemaren alhamdullilah telah berjalan dengan lancar dengan jumlah total peserta yakni ada 230 peserta dari berbagai penjuru smp di kota yogyakarta.acara yang didukung ole sma negeri 1 banguntapan ini merupakan sarana bagi para generasi muda smp kita untuk unjuk kebolehan dalam mengerjakan soal-soal ujian nasioanal.
PARA JUARA PADA PATRYOUT #2
Acara ini merupakan sebuah agenda tahunan yang rutin dilaksanakan oleh sma negeri 1 banguntapan yang kali ini bekerjasama dengan kantin sma negeri 1 banguntapan dan dengan Lembaga Bimbingan Netron.Acara yang berlangsung mulai pukul setengah 7 ini berakhir pada pukul 2.30 sore hari yang diselingi dengan adanya beberapa penampil dari para siswa dari SMABA dan ALUMNI.
patryout # 2 di SMABA
no image

SEKOLAHKU, LINGKUNGANKU

Karya: Nayla Afifah / X7
Sekolah adiwiyata. Sekolah yang peduli pada lingkungan yang bersih, sehat, dan indah. Sekolah Tania sekarang, berwawasan adiwiyata. Tapi.. Jika kalian memasuki sekolah Tania pastilah tak akan percaya bahwa sekolah itu berwawasan adiwiyata.
Ha? Kok bisa?. Lihat saja! Murid-muridnya bahkan tidak pernah peduli lingkungan sekitar. Mau lingkungannya bersih kek, sehat kek, indah kek mereka sama sekali tak acuh dengan lingkungan sekitar. Sepertinya hanya Tania saja yang terlalu peduli dengan lingkungan sekitar. Guru-guru juga sudah menasehati murid-muridnya dan mengajak mereka untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Tapi perkataan para guru hanya masuk ke telinga kanan dan keluar di telinga kiri.
Walaupun teman-teman Tania juga tak peduli dengan lingkungan, namun semangat Tania untuk membuat sekolahnya bersih, sehat, dan indah tak pernah lenyap. Ia sudah bertekad untuk menyadarkan perbuatan teman-temannya dan membuat teman-temannya sadar akan pentingnya lingkungan yang bersih, sehat, dan indah. Tekad apinya tidak akan pernah padam walaupun perbuatannya sering ditertawakan oleh teman-temannya.
“Ngapain kamu peduli dengan lingkungan. Toh.. lingkungan juga gak bakal peduli pada kita..” tanya seorang teman sekelas Tania
“Kalau kamu tidak peduli dengan lingkungan sekitar, kamu yang akan merasakan akibatnya dikemudian hari..” balas Tania, tegas.
Pada suatu pagi yang cerah. Tania sengaja datang lebih awal ke sekolah karena hari ini adalah jadwalnya untuk piket. Sesampainya di kelas, Tania segera meletakkan tasnya dan menyambar sapu yang ada di kelasnya. Sambil bersenandung, Ia mulai menyapu lantai kelasnya yang sangat kotor.
Beberapa saat kemudian, tampaklah kelas Tania yang sudah bersih dan rapi. Tania tersenyum sendiri melihat hasil kerjanya yang tak sia-sia. Namun selang beberapa detik, Andi salah satu teman sekelas Tania yang dikenal sangat bandel dengan santainya melangkah dan meninggalkan jejak sepatunya yang ternyata sudah terkena tanah.
“Andi!!! Kalau mau masuk kelas bersihkan dulu sepatumu. Aku sudah membersihkan kelas kenapa kau mengotorinya lagi??” Tania menegur teman sekelasnya itu.
“Oh.. ada Tania toh. Haha.. maaf aku gak tahu kamu ada disitu..” Andi hanya nyengir memperlihatkan giginya yang putih bersih.
Tania mendengus sebal. Huh.. udah salah gak sadar lagi!. Dasar gak peka!.
“Bersihkan sepatumu dulu gih! Aku udah capek-capek nyapu!” Tania meninggikan suaranya.
“Males ah.. Ntar aja..” dengan wajah tak berdosa, Andi mengambil sebuah permen dari sakunya. Ia membuka bungkus permen itu dan membuangnya begitu saja ke lantai.
Jika ini di dalam komik, maka kita dapat melihat simpang empat yang tercetak di dahi Tania dan kepala Tania yang sudah berapi-api. Hampir saja urat-urat kemarahan Tania putus. Sabar Tania.. sabar.. kamu gak boleh marah-marah.
Dengan langkah gontai, Tania memungut bungkus permen yang dibuang sembarangan oleh Andi. Setelah membuang bungkus permen laknat itu ke tempat sampah. Tania mengambil pel dan kembali membersihkan lantai yang telah dikotori Andi. Sambil mengepel, Tania mulai bergelayut dengan pikirannya.
Bagaimana caranya aku menyadarkan teman-teman kepada lingkungan ya? Ucapan guru-guru saja gak didengar. Apalagi ucapanku, pasti tambah gak didengar!’ pikir Tania, ‘Tapi dimana ada masalah pasti ada jalan keluarnya. Aku yakin! Suatu saat nanti mereka akan sadar pentingnya lingkungan bersih, sehat, dan indah! Aku yakin! Sangat yakin!
Apakah keyakinan Tania akan terkabul?. Entahlah.. tapi yang jelas semangat Tania tidak akan pernah goyah untuk menyadarkan teman-temannya.
Besok adalah hari ulang tahun sekolah Tania tercinta. Sekolahnya sendiri akan mengadakan acara menanam pohon dan pentas seni. Setiap siswa diperbolehkan membawa bibit pohon dan menanamnya di halaman sekolah. Namun bagi yang tak membawa, sekolah juga menyediakan bibit-bibit yang akan ditanam. Mendengar tentang menanam pohon, semangat Tania membara. Ia tak sabar menanam bibit pohon mangga yang barusan dibelinya. Ia dapat membayangkan ketika bibit pohon mangga ini sudah tumbuh besar dan berbuah. Pastilah buahnya dapat dinikmati bersama. Ah.. mangga! Buah kesukaan Tania.
Mentari tersenyum hangat kala hari yang sangat dinantikan Tania tiba. Hari ulang tahun sekolahnya, hari menanam bibit pohon mangganya. Entah mendapat tenaga dari mana sehingga Tania sanggup membawa lima buah bibit pohon mangga sekaligus. Mungkin karena suasana hatinya yang sedang cerah secerah mentari hari itu. Yah.. mungkin.
Ia melangkahkan kakinya cepat menuju kelasnya. Dan betapa terkejutnya Ia ketika mendapati semua teman sekelasnya tidak membawa bibit pohon. Satupun tak ada! Di kelas tersebut hanya dirinya seoranglah yang membawa bibit pohon.
“Kok.. pada gak bawa bibit sih?” tanya Tania.
“Kemarin aku sibuk, makanya gak sempat membeli bibit pohon..” jawab Andi.
Tania tak yakin yang dikatakan Andi benar. Ia dapat melihat mata Andi yang menyiratkan kebohongan.
“Lagi pula sekolah juga sudah menyediakan bibitkan? Kenapa harus repot-repot membeli bibit jika sekolah sudah menyiapkannya..” jawab Andi lagi.
Tapi ternyata perkataan Andi salah besar!. Sekolah memang sudah menyediakan bibit pohon, tapi ternyata jumlahnya tak seberapa. Dan yang paling mengagetkannya lagi, dari ratusan murid di sekolahnya hanya dirinyalah yang membawa bibit. Catat itu! HANYA TANIA!. Tentu saja bibit pohon yang disediakan sekolah tak sebanding dengan jumlah murid yang tidak membawa bibit pohon. Haduh.. haduh.. tingkah murid-murid di sekolahnya memang benar-benar ‘menabjubkan’. Menabjubkan dengan tanda kutip tentunya.
Dan yang benar-benar ‘menabjubkannya’ lagi, kegiatan menanam pohon itu tidah dilakukan dengan serius. Banyak murid yang membiarkan bibitnya begitu saja, menyentuhnya saja tidak!. Termasuk Andi, teman sekelas Tania.
“Andi... cepat tanam bibit pohonmu itu!” tegur Tania.
“Bentar Tan, ada SMS dari teman jauhku. Sayang kalau gak dibalas.. maklum namanya juga teman jauh..”
Tania menghela nafas melihat kelakuan Andi. Tidak ada bedanya kelakuan Andi dengan murid-murid yang ‘menabjubkan’ lainnya.
Setelah acara menanam pohon yang ‘menabjubkan’ itu selesai. Tibalah saatnya untuk pentas seni. Berbeda dengan kegiatan menanam pohon tadi, kini terlihat para murid yang sangat sangat sangat antusias terhadap acara itu. Pentas seni berbanding terbalik dengan kegiatan mananam pohon. Saking antusiasnya, teriakan ratusan murid sampai terdengar ke luar sekolah.
Tania yang memang tidak suka dengan keramaian, akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia masih memikirkan kegiatan menanam pohon tadi.
Ah.. sudahlah tidak usah memikirkan hal itu lagi. Mungkin saja para murid kurang antusias terhadapa kegiatan menanam pohon karena bibit pohon yang kurang banyak..’ pikir Tania sebelum menuju ke alam mimpinya.
Pikiran yang sangat konyol memang. Tapi pikiran tersebut justru membuat Tania lebih tenang dan tidak terbayang-bayang kembali kegiatan menanam pohon tadi. Setelah berpikiran seperti itu, Tania merebahkan dirinya di kasur dan memejamkan matanya perlahan untuk berkunjung ke dunia mimpi.
Keesokan harinya, Tania cengo menatap sekolahnya. Oh.. astaga! Apa yang dilakukan murid-murid di sekolahnya sehingga seluruh halaman sekolahnya menjadi super berantakan dan dipenuhi sampah. Bukan sampah-sampah dengan jumlah sedikit, melainkan sampah-sampah dengan jumlah super banyak yang dapat membuatmu menganga lebar sambil berkata ‘WOW’. Bahkan Tania dapat melihat beberapa bibit pohon yang tergeletak begitu saja dan sudah diinjak-injak. Tania yakin bahkan guru-guru dan cleaning service di sekolahnya tak akan sanggup membersihkan sampah-sampah tersebut.
      “Oh.. Ya Tuhan. Sebenarnya semenabjubkan apa mereka sehingga membuat lingkungan sekolahku menjadi seperti ini?!! Arrrrghhhh!!!” Tania frustasi sambil mengacaj-acak rambutnya.
Lihatlah semua sampah ini!. Apakah kau akan berfikir untuk membersihkan sampah sebanyak ini? Kurasa jawabanmu adalah tidak. Karena sampah disini terlalu banyak. Terlalu, terlalu, terlalu banyak.
Tapi bukan Tania namanya kalau tak peduli terhadap lingkungan sekitar. Ia berjalan dan memunguti semua sampah itu. Walaupun Ia tahu bahwa dirinya tidak dapat membersihkan semua sampah ini. Satu per satu sampah itu diambilnya kemudian di masukkan ke dalam tempat sampah berdasarkan jenisnya. Kelihatannya sih.. sampah yang diambil Tania sudah banyak, tapi ternyata Tania hanya memungut seperempat bagian dari sampah-sampah tersebut.
Memungut seperempatnya saja sudah membuat tangan Tania pegal-pegal dan ngos-ngosan. Peluhnya sudah bercucuran karena kelelahan.
“Lebih baik kulanjutkan nanti saja. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi..” Tania mengelap peluhnya kemudian berjalan menuju kelasnya.
Siang itu, Tania tak dapat melanjutkan kegiatannya untuk memungut-mungut sampah yang tersisa. Hujan deras mengguyur sekolahnya. Sudah dua jam yang lalu hujan itu terus mengguyur tanpa henti. Sambaran kilat dan petir menyertai hujan yang amat deras tersebut.
Tania sedikit cemas. Dengan hujan deras seperti ini, dan sampah yang bertebaran pastinya akan membuat banjir. Apalagi jumlah sampah yang tidak bisa dikatakan sedikit itu masih tersisa di lingkungan sekolahnya.
Dan apa yang Tania cemaskan benar-benar terjadi!. Sekolahnya kebanjiran!. Bukan banjir yang besar memang, namun semua kelas sudah tergenang oleh air.  Airnya hanya setinggi mata kaki, namun yang namanya banjir tetap saja banjir. Semua murid panik. Bahkan ada beberapa yang komat-kamit mengucapkan doa agar air yang menggenang tidak bertambah tinggi.
“Kenapa bisa banjir sih? Perasaan tadi baik-baik saja..” tanya Andi.
“Karena sampah..” jawab Tania.
“Sampah?”
“Ya.. Karena sampah. Sampah yang kalian buang begitu saja membuat sekolah kita kebanjiran. Apalagi sampah-sampah itu sangat-sangat banyak!. Kalian sih.. disuruh memperhatikan lingkungan sekitar malah cuek bebek. Akukan sudah pernah bilang, jika tidak peduli terhadap lingkungan maka kalian akan merasakan akibatnya dikemudian hari!. Dan liat sekarang! Sekolah kita kebanjiran! Salah siapa? Salah kita semua bukan? Karena tidak pernah peduli terhadap lingkungan!”
Suasana hening seketika. Semua teman-teman Tania diam tak bergeming. Apa yang dikatakan Tania memang benar. Mereka salah. Semuanya bersalah. Selama ini mereka tak pernah dan bahkan tak ada niat sedikitpun untuk peduli terhadap lingkungan.
“Kami sadar. Bahwa kami bersalah..” ucap Andi.
“Kalau kalian benar-benar sadar, jangan hanya mengucapkannya di mulut. Tetapi juga dilakukan. Bagaimana jika kalian membantuku membersihkan sampah-sampah di seluruh halaman sekolah?” usul Tania.
“Dulu.. Kami akan selalu menartawakan ajakanmu untuk peduli terhadap lingkungan. Namun sekarang, kami akan selalu berkata ‘Ya’ jika kau mengajak kami untuk peduli terhadap lingkungan..”
Tania tersenyum. Semua teman-temannya juga ikut tersenyum.
“Baiklah.. Sekarang mari kita membersihkan sekolah kita!”
“Ayo!”
Seperti kebanyakan cerita yang selalu berakhir bahagia. Cerita inipun begitu. Semua murid di sekolah Tania akhirnya menyadari pentingnya memperhatikan lingkungan yang bersih, sehat, dan indah.
Setelah sekian lama, sekolah Tania benar-benar menjadi sekolah yang layak mendapatkan sebutan adiwiyata. Atas usaha semua murid, sekolah mereka kini menjadi lebih bersih, asri, dan tampak indah untuk dilihat. Usaha Tania untuk menyadarkan teman-temannya sukses sudah!. Tapi… kenapa harus ada banjir dulu baru teman-temannya sadar?. Jika Tania tahu bahwa dengan bencana banjir di sekolahnya dapat menyadarkan teman-temannya, seharusnya sudah dari dulu dirinya membuat sekolah itu banjir. Konyol? Haha tentu saja! Tania mana mungkin bisa membuat banjir!. Ya.. sudahlah tak perlu dibahas lagi. Yang lalu biarlah berlalu, toh.. Tania juga sudah berhasil menyadarkan teman-temannya untuk peduli terhadap lingkungan.
Kau bisa mengambil makna dari cerita ini bukan?. Merawat lingkungan sejak sekarang, akan merasakan nikmatnya suatu saat nanti. Begitu pula sebaliknya, jika kau sama sekali tak acuh terhadap lingkungan maka kau akan merasakan akibatnya dikemudian hari.
TAMAT
no image

GREENERS UNYU VS THE COMBRO

Oleh : Joana M. Zettira DC

            Sampah dimana mana. Bau tak sedap
merajalela. Es di kutub mencair. Panas tak terelakkan. Akhir dunia, ya akhir
dunia.
            Arggh! Aku terkesiap bangun dari
tidurku. Mataku melotot, hampir copot. Huft! Just dream. Aku mengelus dada
sembari mengatur nafasku yang tak teratur. Ugh, benar benar mengerikan mimpi
tadi. Tidak, tidak boleh, jangan sampai itu terjadi. 
            “Fat, aku berangkat yaa!” teriakku
dari pintu luar. Fat? Who is fat? Fat adalah ayahku. Aku lebih senang
memanggilnya dengan panggilan “Fat” daripada “Father” atau apapun. Lebih akrab,
begitu alasanku. Dia seorang dosen tata lingkungan sekaligus pecinta
lingkungan. Fat tak banyak bicara, tapi Fat selalu melakukan hal hal luar biasa
diluar nalarku. No Action Talk Only, sifat yang dibenci Fat, itu yang kutahu.
Sejak aku masih berkepang dua, Fat telah mengajariku everything about
environment. Aku paham betul semua mengenai lingkungan dan kelangsungannya. Aku
selalu menjadi pendaftar pertama tiap kali ada kegiatan pecinta lingkungan. Ya,
berkat Fat.
            “Selanjutnya, sambutan sekaligus
visi misi dari ketua OSIS baru. Kepada Vina Fridiana, dipersilakan.” Nafasku
tak beraturan. Nervous. Tatapan mata mereka membuat sekujur tubuhku merinding.
Ah tidak tidak, aku tidak boleh gugup. Aku menarik nafas panjang. “Come on
Vina!”
            “Bumi semakin panas akibat pemanasan
global. Berdasarkan kondisi tersebut, kini tengah digalakkan program sekolah
berbasis Adiwiyata. Saya ingin, kita semua, seluruh warga sekolah, ikut aktif
dalam program ini. Kita akan menerapkan 5R, Reuse, Reduce, Recycle, Replace,
dan Replant. Langkah awal, kita bisa memungut dan membuang sampah yang
berserakan di lingkungan sekolah kita di tempat sampah. Selain itu, perlu
diadakan pemisahan tempat sampah organik dan anorganik.” Aku nerocos tanpa
ragu. Sepertinya aku mulai terbiasa dengan ini. Pidatoku sebagai ketua OSIS baru kuakhiri dengan kata “Lets
Be The Greeners!”. Aku benar benar bersemangkat dengan misiku ini. Meskipun,
ekspresi yang kutangkap dari peserta upacara kurang meyakinkan. 
            “Vin, congrats ye! Lu jadi ketua
OSIS baru sekolah kite.” Seseorang menepukku dari belakang. Aku terperanjat
kaget. “Ririn! Nyebelin banget sih, untung aku nggak jantungan.” Aku mengelus
dadaku. “Ngemeng ngemeng lu tadi ngomong apa sih pas pidato? Ayekagak ngarti.” Logat Betawi Ririn mulai
keluar. Oh, bahkan temanku sendiripun tak paham sama ucapanku, bagaimana mereka
semua? Aku melenguh putus asa.  Oh
Tuhan... 
            “Jadi,
gini Rin, kita bikin sekolah kita jadi green. Bersih, indah, hijau, dan nggak
menyumbang polusi pemicu Global Warming. Nggak susah kok. Hmm, itu tuh, parfum
spray kamu ganti pake parfum roll aja. Parfum spray mengandung CFC, dan itu
bener bener dangerous! Berdampak efek rumah kaca Rin!” aku menunjuk parfum
spray yang ada di tangannya. Ririn hanya manggut manggut. “Buat next step,
gimana kalo kita bikin genk peduli lingkungan? Ambisiku untuk menyelamatkan
lingkungan tak dapat kubendung lagi. “Ide bagus! Vin, menurut aye, gimana kalo
name genknye GREENERS UNYU?” Mata Ririn berbinar binar. Gila dia! Aku tak habis
pikir bagaimana reaksi seisi sekolah mendengar nama itu? Freak, alay,
berlebihan! Oh aku mulai pusing. Tapi, ya sudahlah, tak apa, yang terpenting
program ini berjalan.
            Hari
pertama, Greeners Unyu, aku dan Ririn beraksi. Dengan sepatu boot, lengkap
dengan masker dan sarung tangan. So cool. Seluruh sudut sekolah kuperiksa. Aku dan Ririn memungutisampah yang berserakan, dan
memasukkan kembali pada tempatnya. Sangat melelahkan. Beruntungnya, aksi kami
ini menarik simpati warga sekolah untuk bergabung dalam Greeners Unyu. Yuhu!
Aku semakin optimis.
            Hari
kedua. Greeners Unyu jadi pembicaraan hangat di kalangan siswa. Ahay, jumlah
anggota kami sudah mencakup seisi sekolah. Kecuali… tiga orang itu! Mataku
menatap tajam mereka dari kejauhan. Yang kumaksud dengan “itu” adalah Arga,
Bimo, dan Kevin. Troublemaker kelas wahid di sekolah ini. Kerjaan mereka hanya
membuat onar, merusak lingkungan, dan alhasil, mereka sering bolak balik ruang
BK. Mendengar ruang “lubang harimau” itu saja sudah ngeri, apalagi berada
disana. Sangat mengerikan. Kabar yang kudengar, mereka bertiga bikin sebuah
genk. Dan kudengar juga,  genk yang
mereka namai “The Combro” itu berambisi untuk menggeser posisi Greeners Unyu.
The Combro? Oh, tak adakah nama yang lebih freak dari itu? Combro. Jajanan
pasar dengan bahan dasar singkong. Perutku menahan tawa mendengar nama genk
yang makin famous itu. Menggelikan.
            “Wait
wait, ada leadernya Greeners Unyu nih. Genk gaje dengan nama freak dan program
yang nggak penting. Menyelamatkan lingkungan? Wakaka itu sih tugasnya
Departemen Lingkungan Hidup, bukan bocah ingusan kaya loe!” tawa The Combro mencibirku.
Saat itu, di tanganku ada setumpuk sampak organikyang akan kubuat kompos.“Sial, kenapa aku harus berpapasan
sama mereka sih?” Aku melenguh kesal. “The Combro yang manja, egois, dan rese,
kalian nggak intropeksi diri ya? Kalian sering mengeluh uuh panas uuh panas,
tapi nggak sadar kalau sebenarnya kalian sendiri yang memicunya. Dasar NATO!”
aku menjulurkan lidahku, dan buru buru pergi. Dasar NATO! 
            “Rin,
masa Greeners Unyu yang bertujuan mulia dikatain freak sama The Combro?!
Pokoknya itu pelecehan. Aku nggak terima” amarahku meledak. “Hih, apaan sih lu,
ame genk gitu aje pake esmosi esmosian. Udah tau mereka rese.” Ririn
menasehatiku. Benar juga ya, masa aku harus care sama omongan The Combro?
Idiyuh, sama aja aku nothing dong. Okelah, who cares about The Combro!
            “Anak
anak, untuk mensukseskan program yang telah dirancang Vina mengenai sekolah
adiwiyata, bapak ingin membentuk kalian menjadi beberapa teamwork. Setiap
teamwork mempunyai tugas yang berbeda.” Pak Dono mengumumkan lewat pengeras suara
yang segera terdengar ke seluruh penjuru kelas. Wow! Ini akan menyenangkan.
Namun, itu semua berubah jadi suram ketika, “Vina, Arga, Kevin, kalian satu
teamwork!” Rasanya jantungku hampir copot. Oh tidak, ini akan jadi pengalaman
tersuram sepanjang hidupku. “Kalian bertugas di misi Recycle” Pak Dono
menambahkan. Omegat! Aku buru buru protes. Tapi, Pak Dono hanya tersenyum, ah
menyebalkan.
            “Pagi
semua” Arga menyapa aku dan Kevin yang lebih dulu sampai di sekolah. “Kamu
terlambat!” aku menjulurkan lidahku. “Dasar nggak disiplin.” Aku mengomel, tapi
kurasa ia tak peduli. Sebagai anggota teamwork, kami harus bahu membahu menyelesaikan team. Harus
professional. Perseteruan Greeners Unyu dan The Combro sejenak kami redam. Misi
team kami adalah Recycle, mendaur ulang. Dan… sasaran kami adalah, sampah
anorganik!
            “Menjijikan,
jauhkan sampah sampah itu dariku!” Arga menunjuk nunjuk sampah yang kubawa
dengan tatapan jijik. Dasar manja! Arga hanya duduk dengan ponsel di
genggamannya sementara aku sibuk bergelut dengan sampah plastik. “Ehem!” aku pura pura batuk. “Arga,
kamu yang bagian nyuci gih sama Kevin!” setumpuk sampah plastikkuserahkan padanya. Dia mengangguk,
masih dengan tatapan jijik. Setelah plastik plastik itu dicuci, waktunya untuk
memadu padankan warna. Bisa dibilang, aku pandai dalam hal ini. Menurutku.
            Tiktiktik...
Yah hujan datang tiba tiba. Padahal, proses terakhir yang harus dilakukan untuk
membuat tas plastik ini adalah menjahit. Mungkin kalian berpikir, apa
hubungannya “njahit” dan hujan? Hubungannya, ruang menjahit berada di ujung
sekolah. Artinya, untuk menuju kesana kami harus menembus hujan. Ugh, padahal
hujan turun sangat lebat. Karena takada payung, aku terpaksa memotong selembar
daun pisang di dekat ruang keterampilan. Satu daun untuk berdua, aku dan Arga.
Ini juga terpaksa, kalau bukan karena tugas teamwork nggak mau deh aku nglakuin
ini. “Siap! Satu, dua, tiga, lariiiii!” aku memberi aba aba Arga untuk berlari.
Ah, memalukan harus berhujan hujan ria dengannya.
            Sampai
di ruang menjahit, aku buru buru melepas genggaman Arga yang membelenggu jemari
entah sengaja atau tidak. “Eh sory Vin, sory, gue nggak modus kok.” Argalangsung tanggap dengan perilakuku. Aku
tak menjawab. Langsung kujahit semua plastik yang kondisinya sedikit basah
terguyur hujan. “Duh serius amat Vin, mau dibantu?” Arga menawarikubantuan, entah serius entah tidak.
Matanya terus menatapku, walau aku pura pura tak tahu. “No, thanks!” jawabku
datar. Setelah dua jam berada di ruang itu, akhirnyaaa... eng i eng jadilah tas unyu barbahan dasar
plastik!
            Seminggu,
dua minggu, satu bulan berlalu... Greeners Unyu makin top. Programnya,
anggotanya, semuanya! Senyum mengembang dibibirku. Misiku untuk menjadikan
sekolah ini menjadi “Sekolah Adiwiyata” berhasil. Misi sempurna. Tapi, bukan
berarti kenginan dan kegiatanku untuk menjadikan lingkungan bersih berhenti
sampai disini loh. Semangatku untuk cinta lingkungan masih membara. Akan terus
membara.
            Kelulusan
sudah menanti kakak kelas, termasuk Arga. “Haha, dia segera pergi dan nggak
akan pernah muncul lagi” ucapku kegirangan. Tapi, satu ruang di lubuk hatiku
berontak. Apa ini..? Ah, tidak tidak, nggak mungkin kan cewek pecinta
lingkungan sepertiku falling
in love sama troublemaker perusak lingkungan macam Arga? Hatiku tak karuan. 
            “Vin,
tunggu!” seseorang memanggilku dari arah belakang. Aku berbalik. Itu Arga. “Ada
apa Ga, ada yang bisa kubantu?” aku menjawab datar, pura pura cuek. “Enggak, eh
iya, sebelum aku pergi dari sekolah ini, aku mau kamu nemenin aku nanem pohon
ini” Arga berkata penuh harap. Dia menyodorkan sebuah polybag dengan pohon
mangga yang masih kecil. “Ah, ini kesempatan aku dekat dengannya, untuk yang
terakhir kali” aku membatin. Ribungan bunga tumbuh dihatiku. “Em, gimana ya,
sibuk nih aku” lagi lagi aku sok sibuk. “Ayolah Vin, ini permohonan terakhir
deh, janji!” Arga merajuk. “Okedeh” aku mengiyakan.
            Pekarangan depan ruang menjahit
jadi sasaran menanam kami. Aku grogi berada di dekatnya. Huh, aku berusaha
mengatur nafasku. Kami berdua berkelakar ria. Tak ada kesan “enemy” diantara
kami berdua. Tiba tiba, tangan kami saling bersentuhan. Mukaku merah jambu
seketika. Aku buru buru mengganti ekspresiku jadi sok ngambek (bukan ngambek
beneran loh ya). Arga hanya tersenyum melihat perubahan ekspresiku. Kurasa di
tahu jika aku tersipu malu.
            Setelah
pohon mangga itu selesai kami tanam, kami segera berpisah. Tanpa sepatah kata.
Kami sama sama malu untuk mengatakan perpisah. Tak ada “goodbye”, “dah, jaga
dirimu ya”, ataupun “jangan kangen aku ya”, tak ada. Hanya mata kami yang
saling bicara dengan bahasanya sendiri. Mungkin mata Arga sudah mengucapkannya.
Mungkin kata katanya lebih dalam dari yang kuharapkan. Ah, Kak Arga...
            In
memory, Greeners Unyu vs
The Combro. In memory, Vina
vs Arga. Aku selalu terngiang semua itu. Arga.
Kudengar, di sekolahnya sekarang, dia menjadi Duta Lingkungan. Aku tersenyum
dalam diam. Kak Arga, kapan kita satu teamwork lagi? Just imagination. Tapi, bukankah
ambisiku untuk membentuk Greeners Unyu awalnya juga only imagination? Berarti suatu
saat, aku bisa bertemu Arga lagi? Aku tak tahu. Tapi aku yakin. 
no image

Bumi Rusak Kita Bertindak

Oleh : Muhammad RidhoNurrohim

    Pagi-pagi begini aku sudah berkeringat banyak, alasannya seperti pagi-pagi sebelumnya yaitu aku sedang menuntun motorku dari gerbang sekolah menuju tempat parkir. Coba kau bayangkan bila kau menuntun motormu dari gerbang sekolahmu menuju tempat parkir, kelakuanmu itu akan terlihat bodoh di mata orang lain, namun memang seperti itulah sekolahku, yang mewajibkan siswanya untuk tidak menyalakan kendaraan bermotor dikawasan sekolah. Alasannya sih, agar sekolahku terbebas dari polusi udara.
    Para siswa biasanya menyebut agenda tersebut dengan nama engine off. Bagi siswa yang sulit diatur, menganggap agenda tersebut tidaklah bermanfaat dan hanya merepotkannya saja. Namun disisi lain bila ada keburukan pasti ada kebaikan, contohnya mereka anak-anak OSIS dan Adiwiyata, yang ternyata senang mengikuti dan berpartisipasi dalam agenda engine off ini. Dan alasan mereka semua mengikuti Adiwiyata, karena mereka mencintai alam, sehingga engine off merupakan salah bentuk kebaktian mereka terhadap alam ini. Hahaha, tapi menurutku paling-paling mereka semua hanya ingin eksis saja dan membuat perhatian didepan guru-guru.
    Sesampainya aku di parkiran, aku mulai menyetandarkan motorku dan menaruh helmku diatas spion. Saat ini aku menunggu Fahri yang sedang menyetandarkan motornya yang kira-kira 10 langkah dari tempat aku berdiri. Setelah Fahri selesai menyetandarkan motornya dia menghampiriku.
    “Hahahahaha, lama-kelamaan badan kita bisa jadi sixpack ni, habisnya tiap pagi pasti kita fitness terus”, Fahri berkata seraya merangkul pundakku.
    “Hahaha, betul bikin susah aja nih cah Adiwiyata” aku tertawa sambil merangkulnya kembali.
    Dan ternyata yang mendengarkan lelucon kami itu tidak hanya aku seorang, tetapi Ais salah satu anggota Adiwiyata juga mendengarkannya. Langsung saja dia menghampiriku seraya bibir manisnya berkata “Eh kamu jangan gitu dong Son! Agenda ini kan juga bermanfaat buat kita semua para penghuni bumi”.
    “HA!!!..penghuni bumi.. alay banget ni bahasanya” hatiku berkata
    Waktu berjalan dan banyak sekali kata yang dikeluarkan, banyak sekali nasihat yang diberikannya, tetapi tetap saja bagi siswa “nakal” sepertiku nasihat tersebut hanya lewat di telinga kanan dan keluar di telinga kiri.
    “Sudah ah aku malas bicara sama kamu... Eh eh tapi bila kau sedang menasihatiku, kau terlihat canitk sekali deh Is” aku merayu sembari menyudahi pembicaraan kami.
    Tiba-tiba temanku Fahri merasa cemburu mendengarkan rayuaanku terhadap Ais, ya tentu saja karena dia memiliki perasaan terhadap Ais, tentu saja rasa cinta. Dan hal itulah yang membuat lucu, karena Fahri sendiri tidak suka dengan anak-anak Adiwiyata tetapi dia sendiri justru jatuh cinta terhadap Ais, salah satu anggota Adiwiyata.
    Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang mendorongku sehingga tubuhku terjatuh. Setelah kubalikan badanku, Ternyata yang mendorongku adalah Ais setelahnya banyak siswa yang menyaksikannya dan hal itu membuatku malu. Kemudian aku terdiam sejenak memikirkan kejadian ini, apakah mungkin karena aku telah menggodanya sehingga dia mendorongku ya? ah tapi menurutku itu tidak mungkin aku hanya berkata biasa saja kepadanya dan tidak terlalu begitu frontal. Hingga detik ini aku masih bingung melihat wajah kesalnya, aku bertanya-tanya apa yang ada di balik wajah kesalnya?
    Untuk itu aku bertanya kepadanya “Ais kamu kenapa sih? kalo masalah karena aku menggodamu, aku minta maaf deh” seraya aku mengajak bersalaman dengannya.
    Tetapi dia tetap saja diam, dan sepertinya ada hal yang lain yang menjadi alasan mengapa dia begitu kesal kepadaku. Kemudian selang beberapa menit Bu Indah datang menghampiri kami berdua
    “Nak Soni! Nak ais!! Kalian berdua ngapain? kok malah ribut begini kayak anak kecil saja. Lebih baik kita bicarakan di masjid, ayo ikut ibu!” ajak Bu Indah kepada kami berdua.
    Sesampainya di Masjid, Bu Indah menanyakan kami berdua tentang kejadian tersebut. Diantara kami berdua belum ada yang menjawabnya, selang beberapa menit aku membuka pembicaraanya.
    “Saya juga tidak tahu bu, tiba-tiba Ais mendorongku Bu. Kemudian aku meminta maaf kepadanya, Ais malah diam saja Bu” ujar aku. “Dia mengambek kali Bu” aku berkata dengan nada mengejek
    Tiba-tiba Ais menjelaskan alasannya dengan lantang “Aku kesal dengan Soni, Bu. Dia sepertinya tidak suka dengan Adiwiyata. Di saat aku ingin menasihatinya dia justru menggodaku“ ujar Ais dengan kesal.
    “Oo jadi seperti itu alasannya mengapa kalian ribut di tempat parkir?” tanya Bu Indah
    “Buat Nak Soni, nasihat Nak Ais itu kan baik. Mengapa kamu justru mengabaikannya?” tegas Ibu kepadaku seraya menatap tajam ke arahku. Perasaanku saat ini sangat takut ditambah dengan tatapan tajamnya yang mengintimidasiku.
    “Dan nak Ais juga jangan langsung bertindak seperti itu karena bisa mencelakan nak Soni! Kalian berdua mengerti?” tanya ibu kepada kami. “Iya Bu kami mengerti” jawab kami berdua.
    “Mungkin Sony kamu belum begitu mengerti fungsi Adiwiyata. Oleh sebab itu ibu ceritakan tentang Adiwiyata terlebih dahulu, terutama tentang kegiatan engine off.  Tetapi kalian baikan terlebih dahulu baru ibu akan bercerita” pinta ibu kepada kami berdua. Kemudian kami memutuskan saling bermaafan.
    “Nah gitu dong. ibu sebagai wali kelas kalian sangat senang melihat kalian baikan seperti ini. Nah kalau begitu ibu akan bercerita“ ujar Bu Indah dengan senang
    “Bumi kita saat ini sangat panas, tentu saja ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa bumi kita semakin panas. Salah satunya adalah polusi udara yang disebabkan gas karbon monoksida atau CO, tentu kita tau semua, gas CO berasal dari knalpot motor. Nah terutama motormu Nak Soni bikin polusi saja” tersenyum sambil menatapku “
    ”Hahaha iya bu maaf “ jawabku.
    “Nah kegiatan engine off yang digerakkan oleh anak-anak Adiwiyata sangat membantu sekali, walaupun terlihat kecil namun efeknya sangat besar, terutama buat sekolah kita” ujar Bu Indah
     “Nah,, benerkan Son organisasi Adiwiyata itu bermanfaat.” Ujar Ais dengan bangganya
    “Haha iya ni bener kamu Is. Aku juga minta maaf ya Is “ ujarku sembari meminta maaf
    “Haha iya, iya son aku juga sama tadi mendorong mu..Oo ya sudah bel nih ayo masuk ke kelas” ajak Ais. Kami pun berpamitan dengan Bu Indah untuk masuk kelas mengikuti pelajaran.
    Setelah pembeciraan itu banyak sekali manfaat yang aku dapatkan. Dan mulai dari sekarang, hal itu akan menjadi prinspiku. Walaupun aku bukan anak Adiwiyata atau pun pencinta alam, aku akan selalu menjaga bumi ini. Dan bila ada yang merusak bumi ini, maka berhadapan dengan aku!!!
no image

GALAU ADIWIYATA

Oleh : Gilang Pidianku

            Perkenalkan namaku dika, aku bersekolah disalah satu sekolah yang sedang gempar-gemparnya mencanangkan proses adiwiyata, yang kabar-kabarnya berkiblat ke arah kesehatan sekolah, lingkungan yang bersih dan nyaman, tanpa polusi. Mungkin beginilah cerita ini dimulai.
            Siang itu aku duduk disebuah bangku kayu berwarna coklat yang berada di depan perpustakaan sekolah. Sejenak aku berpikir-pikir serambi melihat sekolahku yang mengalami banyak perubahan, ya bisa dibilang dari sebuah gurun pasir yang gersang menjadi hutan hujan yang sangat lebat. Terlintas dipikiranku saat itu "Kenapa harus ada perubahan drastis seperti ini? Bukannya hanya buang-buang uang sekolah saja? Kenapa tidak digunakan untuk keperluan lain saja? toh kadang-kadang bila siswa ingin melaksanakan suatu kegiatan pasti selalu kekurangan biaya." . Tidak lama setelah duduk disitu, aku pun pergi dengan berbagai pikiran negatif tentang perubahan drastis sekolahku yang menurutku tidak penting.
            Bel pun berbunyi nyaring dengan nada-nada yang khas ciptaan musisi Mozart. Pelajaran pun dimulai, saat itu adalah pelajaran yang biasanya mengusik niat belajarku yang membara, karena pelajaran tersebut membuat diriku menjadi tidak semangat belajar lagi, dan scera otomati mengubah niat belajarku yang membara tadi menjadi seakan membeku. Karena tidak niat lagi mengikuti pelajaran tersebut, pemikiranku menjadi melayang kemana-mana, pikiran negatif yang hinggap dipikiranku saat di perpustakaan tadi kembali datang mengusik pikiranku kembali. "Hahaha, sekolah ini memang sangat lucu, katanya dulu ingin menjalankan proyek adiwiyata? tetapi kenyataannya hanya penanaman demi penanaman saja yang dilakukan, dan aspek lain tidak dilakukan, kan sebenarnya adiwiyata tidak hanya sekolah yang hijau tetapi sekolah yang hemat energi, anti polusi, dan sudah pasti nyaman. Tetapi kenyataannya? sekolah yang hijau memang sudah tepat, tetapi masih saja pengap, penggunaan listrik masih boros, polusi masih dimana-mana, entah itu yang berasal dari AC ruang kepala sekolah, kipas angin, gas sepeda motor, dan kadang-kadang banyak debu bertebaran dimana-mana. Apakah itu membuat siswa-siswi disini nyaman? dan sudah pasti jawabannya tidak. Dan bisa dibilang sekolah ini bakal gagal menjadi adiwiyata bila tidak memperhatikan aspek lain."
            Hari itu saat disekolah hanya dipenuhi oleh pikiran-pikiran negatif tentang adiwiyata yang berputar-putar di otakku. Bel pun berbunyi kembali, kali ini bel dihiasi oleh alunan lagu sayonara yang menandakan bahwa ini adalah waktunya untuk pulang, seperti biasa saat pulang aku bercanda tawa terlebih dahulu diparkiran yang berada tepat di depan aula sekolah bersama teman-teman akrabku. Setelah lelah tertawa terbahak-bahak karena berbagai cerita lucu yang dilontarkan mulut humoris beberapa temanku, akhirnya aku memilih untuk izin pulang dengan teman-temanku, dengan perlahan kutarik tuas gas ku yang agak keras dan segera menuju rumahku yang sekitar 4 kilometer dari sekolah.
            Sesampainya di rumah, aku langsung menyalakan komputer orange tua ku yang sudah dilengkapi dengan fasilitas internet yang lumayan cepat. Sekitar 1 jam aku berselancar di internet dengan melihat sekolah-sekolah yang terlebih dahulu mendapat gelar-gelar adiwiyata. Setelah melihat-liat, aku pun  mendapat kesimpulan bahwa yang mendapat gelar adwiyata adalah memang sekolah-sekolah yang kurang terkenal akan prestasinya, dan tiba-tiba terlintas dipikiran ku yang bisa dibilang kotor, "Apakah benar demi menutup kekurangan dalam hal prestasi sekolah, sekolah-sekolah tersebut menjadikan adiwiyata sebagai ajang mencari nama dan ketenaran?."
            Halaman demi halaman internet sudah terbaca olehku, dan ternyata ada sesuatu yang mengejutkan diriku yaitu tentang fasilitas-fasilitas, kegiatan, dan pembelajaran yang sudah digunakan dan diterapkan oleh salah satu sekolah yang sudah mendapat gelar adiwiyata. Dan bila dibandingkan dengan sekolahku sendiri, pastilah tidak ada apa-apanya, akupun semakin geregetan dan berpikir bahwa adiwiyata disekolahku hanyalah pemborosan dan omong kosong saja, semuanya bisa dibuktikan dengan keadan di sekolah sekarang ini dan hari-hari sebelumnya yaitu pengap, panas, pemborosan listrik, debu dimana-mana, dan sudah pasti banyak polusi.
            Waktu terus berjalan dan tak terasa waktu sudah menginjakan kakinya di pukul 6 sore, itu waktunya untukku mandi dan siap-siap belajar atau sekedar mengulang pelajaran yang tadi dipelajari. Menit demi menit, jam demi jam sudah kulewati dan sudah tidak terasa waktu sudah bergerak ke pukul 10 malam, itu artinya sudah waktuku untuk pergi ke alam mimpi, dengan diawali doa, kutarik selimutku dan meletakkan bantal dikepalaku, dengan mencari posisi yang pas akhirnya kupejamkan mataku dan mengakhiri hari ini dengan sejuta keraguan dan pemikiran negatif tentang adiwiyata yang sudah menyerang pikiran ku sejak siang tadi.
            Seperti Wilt Chamberlain, waktu terus berlari cepat dan sceara tidak sopan memotong tidurku yang sedang nyenyak dengan alarm keras yang seakan membentak telingaku. Waktu sudah melangkah lagi ke pukul 5 pagi waktu itu, dengan mata yang kedap-kedip dan badan yang sempoyongan kulangkahkan kaki-kaki besarku ke arah kamar mandi dan segera mandi. Setelah mandi, aku bersiap-siap untuk ke sekolah dengan tidak lupa memakai seragam rapi khas sekolahku. Kupanaskan sepeda motor dan langsung bergegas ke sekolah.
            Setelah sampai di depan sekoah, tiba-tiba aku dihentikan oleh beberapa orang yang bergabung dalam ekstrakurikuler adiwiyata dan dengan suara sopan memintaku untuk mematikan sepeda motorku serambi dirinya membawa poster bertuliskan "Engine off". Pikiranku melontarkan hal-hal pedasnya lagi dan berkata "Omong kosong apa lagi ini? Apa lagi yang mereka rencanakan? Ah paling hanya formalitas saja untuk mengembangkan ekskull adiwiyata". Setelah kuparkirkan sepeda motorku di tempat parkir yang kosong, aku segera pergi bersalaman dengan Guru-guru yang sudah berdiri rapi dan menyalami murid-murid dengan dihiasi senyuman yang khas dari masing-masing mereka/beliau. Ini yang membuatku sangat kagum dengan sekolahku yaitu penumbuhan rasa hormat pada Guru untuk siswa dan penumbuhan kebiasaan tepat waktu untuk para Guru agar tidak terlambat ke sekolah karena Guru mempunyai tanggungan untuk menyalami murid dengan senyuman serambi memeriksa seragam siswa/siswi yang tidak rapi. Secara tidak langsung ini mempererat hubungan antar siswa dan Guru.
            Sesampainya dikelas aku mendengar beberapa temanku mengomel kesal karena harus menuntun motor gara-gara kegiatan engine off tadi. Karena ini hari pertama engine off maka tidak heran bila banyak yang mengomel kesal gara-gara harus menuntun motornya masing-masing menuju parkiran. Pelajaran pun dimulai, setelah melewati beberapa pelajaran tibalah waktu istirahat, dengan perut yang lapar, aku dan teman-temanku pergi menuju kantin sekolah untuk mengisi perut.
            Bel pun kembali berbunnyi seperti meneriakan untuk segera masuk ke kelas. Kali ini adalah pelajaran Biologi yang kebetulan gutunya adalah guru pembimbing adiwiyata disekolahku. Karena bab yang kami pelajari sudah selesai, maka dengan sisa waktu 30 menit Beliau habiskan untuk memperlihatkan progam-progam adiwiyata, disitu aku menyaksikan semua progam yang sudah dan ingin dilaksanakan sekolah. Komplek memang ide-ide dan rencana-rencananya, tetapi sampai sekarang seperti omong kosong karena tidak ada pembuktiannya/hanya sedikit. Dari situ aku mulai berpikiran tambah negatif setelah membandingkan apa yang direncanakan dengan apa yang sudah direncakan oleh orang-orang yang bekerja di bagian keadiwiyataan.
            Hari-hari dan bulan-bulan kulewati, kegiatan engine off terus dilaksanakan dan aku melihat beberapa teman-teman dari ekstrakurikuler adiwiyata terus bekerja, menanam, memilah sampah dan semua kegiatan-kegiatan adiwiyata lainnya.
            Hingga suatu hari aku mendengar kabar bahwa sekolahku mendapat juara 1 lomba sekolah sehat dan mendapat gelar sekolah adiwiyata, aku pun terkejut dan pasti merasa senang juga. Dari situ aku sadar ternyata apa yang kupikirkan selama ini ternyata salah. Kerja keras para anggota adiwiyata ternyata bukan menghasilkan omong kosong belaka saja, prestasi yang tinggi itu berhasil mereka raih dengan kerja keras, kesabaran, dan ketabahan menghadapi kesulitan demi kesulitan.
            Hari-hari demi hari setelah kemenangan besar itu dan secara tidak sengaja aku duduk kembali dikursi kayu coklat yang berada didepan perpustakaan sekolah. Dari situ aku melihat sekolahku sudah lebih berubah lagi dari yang semula adiwiyata-adiwiyataan menjadi adiwiyata sesungguhnya. Sejauh mata memandang tidak ada lagi polusi berlebihan, penggunaan AC dan kipas angin, dan debu yang berterbangan. Semua berubah sesuai konsep adiwiyata. Aku hanya tersenyum senang melihat semua hasil ini dan mengingat kembali apa yang kupikirkan dahulu tentang adiwiyata.
            Dari kejadian ini aku banyak belajar bahwa hasil yang besar itu diawali proses yang panjang dengan disertai kerja keras, kesabaran, dan kesungguhan. Jadi pesan dariku, "Gantunglah cita-citamu dan impianmu setinggi mungkin, tetap konsisten dan jangan buat mimpimu hilang atau berubah hanya karena pengaruh dari orang lain dan lingkungan".
no image

Sikecil Sofi sang sahabat alam

Oleh : Bella pratiwi kp ( XII IPA 1 )



Terbayang bukan betapa bahagianya bila kita dapat menikmati hidup seribu tahun lagi lamanya dengan keadaan yang tenang, damai, terntram, dan sejahtera. Seperti halnya seorang gadis kecil yang amatlah lucu bernama sofi. Sofi tinggal bersama kakehnya di sebuah desa yang kecil namun penduduk sekitarnya sangatlah ramah. Sudah terlintas dibenak kita betapa indahnya suasa didesa, pastinya asri, hijau,tenang, nyaman jauh dari benak kita terbayang hal-hal yang sumrawut seperti dikota.
Suatu malam Sofi tidak bisa tidur kemudian dia menghampiri kakeknya yang tengah asik membelai-belai keris pusaka kesayangannya. Dengan nada manjanya sofi berbisik pada kakek .
“kek malem ini Sofi boleh minta sesuatu tidak sama kakek?” pintanya.
“mau minta apa memangnya kamu fi?” tanya kakek pada Sofi.
“Sofi minta didongengin sama kekek, kakek mau kan dongengin Sofi buat menghantar tidur Sofi kek”.
“yasudah nanti kakek dongengin fi, tak selesaikan dulu kerjaan kakek” saut kakek pada Sofi.
Kemudian tak berapa lama kakek menghampiri Sofi yang tengah asik berbaring di lencak dengan muka tak sabar untuk mendengarkan cerita kakek.
“sudah siap fi dengerin cerita kakek?”tanya kakek seraya membelai rambut Sofi.
“sudah dari tadi kali kek” saut Sofi dengan nada manjanya.
“kakek mau dongengin kamu tentang masa keil kakek saja ya fi, jadi dulu itu waktu kakek masih seumuran kamu gini kakek punya sebuah keinginan yang pengen banget kakek wujudin, mungkin keinginan kakek ini bisa dibilang sedehana. Kakek itu pengen banget hidup 1000 tahun lagi dibumi kita ini fi karena kakek ingin melihat anak cucu kakek mendapat semu yang mereka inginkan biar kakek juga ikutan bahagia terus ya fi yang ada diotak kakek itu suasana desa yang damai hijau dan permai fi. Tapi setelah kakek mengalami banyak masa dan sudah tau pahit manisnya dunia kini impian kakek hanya harapan belaka fi. Susah bagi kakek untuk mewujudkan impian itu” kakek menghentikan ceritanya.
“ kok bisa seperti itu kek, kenapa memangnya kek?”
“ karena orang-orang jaman sekarang itu tidak pandai besyukur fi. Mereka dianugrahkan oleh Tuhan alam yang melimpah akan kandungan sumber daya untuk kita malah digunakan seenak hati mereka untuk kesenangan yang bersifat sementara. Mereka tidak pernah memikirkan bagaimana dampak untuk masa depan. Lihatlah fi dimana-mana terjadi banjir dan tanah longsor semua itu ya berkat ulah tangan manusia yang serakh fi. Itulah yang membuat para generasi tua seperti kakek ini prihatin melihat keadaan bumi kita saat ini. Seharusnya anak-anak muda seperti kamu besok kedepannya harus lebih bisa menjaga lingkungan sekitar kita dari kerusakan, di Al-qur’an saja sudah diperintahkan bukan supaya kita menjaga lingkungan kita dari kehancuran yang semakin mengancam” cerita panjang kakek pada fi.
“ ohh iya kek fi juga pernah dikasih tau sama pak udztad kok kek, terus fi juga ikutan jadi kader lo kek di sekolah TK fi”.
“ Wah bagus kalo gitu fi kan kamu jadi lebih tau bagaimana cara memelihara alam ini supaya tidah cepat mengalami kerusakan fi”.
“ Iya kek Fi janji kek kalau Fi mau mewujudkan apa yang udah diimpi-impikan sama kakek dulu. Fi dan teman-teman akan berusaha sekuat tenaga Fi menjaga alam ini supaya Fi bisa hidup 1000 tahun lagi ya kek bersama kakek anak fi dan cucu Fi kelak”.
  Nah itu baru cucu kakek bangga kakek pada fi. Sekarang fi tidur ya sudah malam ceritanya dilanjutin brsok lagi aja ya fi” pinta kakek pada fi.
  Baiklah kek Fi udah enggak sabar besok pangin pengen lebih banyak lagi nyiramin bunga dikebun kita kek” ujan Sofi sembari masuk kedalam kamar.
            Semenjak itu Sofi selalu rajin menyirami tanaman bunga yang berada dikebunnya bahkan terkadang dia menanam beberapa macam tanaman obat yang sering dibutuhkan kakeknya untuk meramu obat tradisional. Alasannya agar kakeknya mudah mencari rempah-rempah tumbuhan yang dibutuhkan untuk meramu obat. Si Sofi yang masih kecil saja semangat untuk menjaga lingkungannya tinggi mengapa orang dewasa diluar sana banyak yang tidak peduli lalu bagaimana jika alam murka pada umat manusia mau jadi apa kita kelak apakah kita akan diam saja melihat Fi seperti itu.  
Copyright © 2014 OSIS TATA GAWA All Right Reserved
Designed by SMA N 1 BANGUNTAPAN