Breaking News
Loading...

Paralysis

Oleh : Shafira Anissa
Aku suka sekali tanaman.
Mama dan Papa bekerja di tempat perkebunan. Tiap hari, mereka memperlihatkan padaku jenis-jenis tanaman, dari yang merah, putih, kuning, bahkan hitam. Semuanya kelihatan bagus dan rapi. Papa sukaaa sekali menceritakan padaku tentang mereka—terutama bunga mawar yang dinamai Papa si ‘Merah’—dengan sangaaat detail. Kurasa, dari merekalah aku mendapat ciriku itu—menyukai tanaman.
Mimpiku adalah untuk bisa menyelimuti bumi ini dengan kehijauan mereka!
“Hijau, hijau, hijau tamanku,” lantunku dalam hati, “Hijau favoritku!”
Hari itu aku mengambil sekantung bibit milik Mama—aku percaya Mama pasti nggak akan marah, kok—untuk di tanam di depan rumah. Aku nggak tau itu bibit apa, tapi Mama bilang, nanti kalau sudah mekar bagus, kok. Jadi-nya ‘kan, nggak apa-apa.
Kemarin Mama membelikanku sekop. Warnanya biru terang, kata Mama itu warna yang cocok buatku. Warna biru’kalem’ katanya. Kalem itu apa, ya? Besok aku tanyakan Mama, deh. Oh, ya. Mama dan Papa dimana ya...?
“Ya sudah, nyari Mama sama Papa nanti, deh.
Di depan rumah, dengan sekopku kukorek tanah yang masih kosong. Sebagian besar sudah banyak isinya, tapi masih ada yang kosong. Kubuka kantung bibit Mama. Sulit sekali membukanya, siapa sih yang menutupnya? Akhirnya, kupaksa terbuka...
...Hasilnya, kantungnya robek dan bibitnya tumpah semua...
“Wah!” Pekikku saat bibit-bibit Mama tumpah. Mama pasti akan marah kalau begini... apa yang harus kulakukan...?
O-oh ya! Aku tanam saja semua bibit yang tumpah... pasti Mama malah senang ada banyak yang tumbuh. Sekarang, siraman Mama mana ya...? Biasanya sih, Mama taruhnya di belakang rumah. Coba lihat, deh!
Setelah sampai di belakang rumah, ternyata Mama memang ngeletakin-nya disitu! Sekarang, waktunya menyiram...~
Setelah tugasku selesai, aku langsung masuk rumah dan cuci tangan. Mama dan Papa, ‘kok, masih nggak kelihatan ya...? Apa mereka keluar?
“Mama? Papa?” Panggilku dengan keras. Rumahku kecil, jadi seharusnya Mama dan Papa dengar, tapi ‘kok... nggak ada jawaban, ya...?
“Ma? Pa? Mama ada di mana? Papa di rumah, ‘kan?” ...Coba kalau aku keliling rumah. Pasti ketemu, deh!
Di kamar Mama dan Papa... nggak ada.
Di kamarku... juga nggak ada...
Di dapur? Tadi ‘kan, aku sudah ke dapur!
Terus, terakhir, kalau di ruang keluarga... nggak ada juga...
“Mama?!” Teriakku, “Papa?! U-uwa—uh... hueh...
N-nggak boleh nangis! Nanti kalau nangis... nggak bakal ketemu... kata Mama, kalau nangis nanti malah makin buntu...! Setelah menggelengkan kepalaku dan membersihkan—er... maksudku mengusap mataku! Aku nggak nangis, kok—aku memandang sekeliling. Siapa tahu, Mama pergi tanpa ngomong dulu...
Di atas meja, ada kertas mengkilap. Tadi kayaknya nggak ada! Mungkin Papa yang meninggalkannya.
Mama dan Papa ada di taman hutan dekat rumah.
Dedek kesana, ya!
Nanti ketemuan Mama sama Papa, terus kita makan di luar.
Papa dan Mama menunggu.
-Papa.
Di... taman hutan...!
“Tunggu, Mama, Papa! Sebentar lagi aku sampai!”
Jalan ke taman hutan memang nggak jauh-jauh amat, kok. Tinggal dari rumah, terus ke kanan... ke kiri, terus lewat pancuran air! Nanti lurus saja...—
“...Eh!?” Di seberang jalan, aku melihat ada orang membuang sampah ke dalam pot bunga. J-jangan, dong! Berhenti... berhentilah! Pergi, menjauh dari pot itu...!
“BERHENTI!!” Teriakku, namun semua seperti tak mendengarnya. Bahkan orang itupun hanya berjalan melewati pot itu seakan-akan hal yang dilakukannya barusan tidak terjadi.
Aku nyaris tak dapat menoleh. Kenapa... kenapa Ia dapat melakukan hal seperti itu...? Aku harus kesana... dan membersihkan pot bunga itu... kasihan bunga—
Papa dan Mama menunggu.
Surat itu terbayang di benakku. Aku nggak boleh lama-lama... nanti... Papa dan Mama...
“...Maaf, bunga! Aku harus cepat ke tempat Mama dan Papa..”
Rasanya kepalaku sakit, dan mendadak, dadaku juga...
Lama-lama jalanku melambat juga. Kepalaku sakiiit sekali, entah mengapa. Dadaku terasa terbakar...
Aku memutuskan untuk berhenti sebentar. Mama... Papa...
Agak jauh di sebelahku, aku melihat pot besar. Isinya baru tunas kecil, berwarna hijau muda. Rasanya sejuk memandangnya...
Tiba-tiba seorang tante lewat, tangan kirinya berkutat dengan handphone-nya, tangan kirinya membawa plastik makanan. Melewati pot tunas, tante itu langsung membuang sampahnya dengan acuh tak acuh.
“Jangan!” Teriakku. Namun, seperti tadi, tante itu seakan tak melihatku. Ia tetap memandang layar HP-nya, tanpa bahkan memandangku sedikitpun.
“TANTE!!” Teriakku lagi, namun Ia malah terlihat tambah tak peduli.
Ah... kepalaku sakit.
Setelah memandangi pot bunga itu, aku melanjutkan perjalanan ke taman hutan.
Mama...
Papa...
Aku ingin bertemu...
Setelah perjalanan yang terasa sangaaat panjang, akhirnya aku sampai juga ke Taman Hutan. Taman itu penuh pohon-pohon besar, sehingga akhirnya dipanggil taman hutan. Mama seharusnya ada disini, menungguku bersama Papa.
“Mama? Papa?”
Aku berjalan masuk ke dalam Taman Hutan. Dan yang kulihat, bukannya Mama dan Papa, malah orang-orang yang menebang pohon dengan kapak-kapak mereka yang bersinar mengkilat, dan mesin-mesin besar yang dengan cepatnya menghancurkan taman hutan...
...hancur...
“HENTIKAN!!!”
Nafasku terasa tercekat.
Pandanganku makin lama makin kabur.
Kepalaku terasa sakit sekali.
Pusing.
Mama. Papa.
“HENTIKAN!!!”
“...Ah!”
Mataku terbuka.
Pemandangan familier kamarku, yang dindingnya dan langit-langitnya dari kayu. Udaranya terasa lembap. Ingin rasanya kugerakkan kakiku; tapi aku tak dapat merasakan apapun. Dibawah selimut putih kusam ini, rasanya tak ada diriku. Aku tak bisa merasakan apapun.
Angin bertiup. Gorden tipis jendela terbuka melambai-lambai, seakan-akan tertawa.
Pemandangan luar gersang, tanpa ada tanaman apapun. Tanah kering kusam, lantai berderit.
“HENTIKAN!!”
Segalanya...
Mengabur menjadi hitam.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2014 OSIS TATA GAWA All Right Reserved
Designed by SMA N 1 BANGUNTAPAN